Seminar Nasional Metodologi Penelitian FEB Universitas Muhammadiyah Tangerang di Grand Serpong Hotel Kota Tangerang|Eranews.id — Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menyelenggarakan Seminar Nasional Metodologi Penelitian sebagai upaya memperkuat budaya riset di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan yang menghadirkan Prof. Dr. Andry Priharta, S.E., M.M., sebagai narasumber utama ini diikuti lebih dari 700 peserta dari berbagai institusi dan berlangsung di Grand Serpong Hotel, Kota Tangerang, Senin (29/12/2025).

Seminar Nasional Metodologi Penelitian FEB Universitas Muhammadiyah Tangerang di Grand Serpong Hotel
Seminar dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Aris Gumilar, M.M., yang hadir mewakili Pimpinan Universitas Muhammadiyah Tangerang. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya membangun budaya riset di lingkungan kampus yang tidak hanya administratif, tetapi berdampak nyata bagi masyarakat.
Dekan FEB UMT, Dr. Hamdani, S.E., M.M., M.Pd., M.Ak., dalam laporannya menyoroti komitmen UMT dalam mendorong publikasi karya ilmiah mahasiswa ke jurnal nasional dan internasional bereputasi sebagai bagian dari strategi menuju kampus unggul dan berdaya saing.
Mengusung tema besar “Membangun Peradaban Melalui Riset Berkemajuan dalam Peningkatan Mutu Pendidikan”, seminar ini menjadi ruang reflektif sekaligus strategis dalam menegaskan pentingnya riset yang berdampak bagi masa depan bangsa. Dalam presentasinya, Prof. Andry Priharta menyoroti potret pendidikan Indonesia serta urgensi penguatan riset dan pengabdian masyarakat dalam lingkup akademik.
Mengutip data Kemendagri per Desember 2024, Prof. Andry mengungkapkan bahwa sebanyak 24,3% dari 284,4 juta penduduk Indonesia tercatat belum atau tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Selain itu, sebanyak 22,27% penduduk hanya menamatkan pendidikan hingga tingkat sekolah dasar (SD), sementara 35,96% merupakan lulusan SMP dan SMA. Hanya 6,82% dari total penduduk yang telah menempuh pendidikan tinggi (D1 hingga S3), dengan lulusan S3 hanya mencapai 0,02%.
“Data ini sangat memprihatinkan. Ketimpangan dalam akses dan kualitas pendidikan mengancam daya saing bangsa, terutama ketika kebutuhan dunia kerja masa depan menuntut keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, dan adaptif,” ujar Prof. Andry.
Beliau menekankan bahwa riset di perguruan tinggi harus diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. “Perguruan tinggi tidak bisa lagi berorientasi pada output administratif semata. Riset dan pengabdian masyarakat harus berdampak. Itu kuncinya,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Andry juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem riset yang melibatkan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan komunitas lokal. Riset tidak cukup hanya berstandar metodologis yang kuat, tetapi juga harus relevan secara sosial dan dapat diimplementasikan. Menurutnya, hasil riset sebaiknya menjadi dasar penguatan kurikulum dan strategi pembelajaran, sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga agen perubahan.
Sesi seminar diakhiri dengan dialog interaktif antara peserta dan narasumber, yang membahas berbagai isu aktual seputar pendidikan tinggi, strategi penyusunan proposal penelitian, pengolahan data, publikasi ilmiah, serta tantangan dalam menjadikan riset sebagai pilar pembangunan berkelanjutan.
Moderator acara, Agung Budi, S.E., M.M., turut mengapresiasi antusiasme peserta dan menegaskan pentingnya keberlanjutan kegiatan semacam ini untuk membangun budaya akademik yang kuat.
Dengan mengangkat tema yang menyentuh esensi tridharma perguruan tinggi, seminar ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran metodologi penelitian, tetapi juga momentum untuk mempertegas arah pengembangan riset yang berkemaajuan—rancang bangun intelektual yang mampu berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan dan pembangunan peradaban. UMT melalui kegiatan ini menunjukkan keseriusan dalam mencetak generasi intelektual yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.