Wakil Gubernur Banten A. Dimyati Natakusumah membuka IPSBC 2026 yang diikuti 1.154 peserta dan ofisial dari 15 provinsi, Jumat (28/8/2026).
📸 @al.saaptra Kota Serang|Eranews.id – Wakil Gubernur Banten A. Dimyati Natakusumah mengusulkan pencak silat menjadi kegiatan ekstrakurikuler wajib di seluruh jenjang pendidikan.
Usulan itu disampaikan Dimyati saat membuka Indonesia Pencak Silat Banten Championship (IPSBC) 2026 di Gelanggang Remaja Ciceri, Kota Serang, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, pencak silat tidak hanya mengajarkan kemampuan bela diri, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter bagi generasi muda.
“Pencak silat bukan sekadar bela diri, melainkan sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, keberanian, hingga spiritualitas anak-anak kita. Saya mendorong agar pencak silat dapat dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah untuk seluruh jenjang pendidikan,” tegas Dimyati.
Indonesia Pencak Silat Banten Championship 2026 berlangsung pada 28–30 Agustus 2026. Kejuaraan tingkat nasional tersebut diikuti 1.154 peserta dan ofisial dari 15 provinsi di Indonesia.
Peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak berusia lima tahun hingga kategori dewasa berusia 35 tahun. Mereka bertanding dalam sejumlah nomor tanding dan seni.
Kejuaraan tersebut menjadi kesempatan bagi pesilat untuk menguji hasil latihan, menambah pengalaman bertanding, serta mengembangkan kemampuan teknik dan mental.
Panitia juga mencatat para peserta tergabung dalam lebih dari 100 kontingen. Sejumlah atlet mengikuti kejuaraan sebagai bagian dari persiapan menghadapi babak kualifikasi dan kompetisi tingkat nasional lainnya. Radar Banten
Jadwal dan lokasi pelaksanaan kejuaraan telah dipublikasikan penyelenggara melalui laman resmi Indonesia Pencak Silat Banten Championship 2026.
Dimyati menilai penyelenggaraan kejuaraan secara rutin menjadi bagian penting dari pembinaan atlet.
Semakin banyak kompetisi digelar, semakin besar pula kesempatan menemukan bibit-bibit pesilat potensial dari berbagai kelompok usia.
Namun, kompetisi harus diikuti program latihan yang intensif, peningkatan kemampuan pelatih, penguasaan strategi, serta evaluasi terhadap penampilan atlet.
“Kalau kita ingin banyak mendapatkan atlet-atlet unggul, perbanyak festival. Kemudian, perbanyak latihan, tingkatkan ilmu dan strategi, serta miliki ilmu-ilmu baru,” ujar Dimyati.
Kejuaraan juga tidak semestinya hanya berorientasi pada perolehan medali. Pengalaman bertanding diperlukan untuk membangun kepercayaan diri, pengendalian emosi, sportivitas, dan kesiapan atlet menghadapi tekanan di arena.
Dimyati mengapresiasi prestasi pesilat Banten yang mampu bersaing pada kejuaraan nasional hingga internasional.
Pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat Junior Ke-5 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, tahun 2024, dua pesilat muda asal Kota Tangerang berhasil meraih medali emas kategori ganda putra.
Kedua atlet tersebut adalah Fadly Rizki Hiwarani dan Ikbaar Haji Bagaskoro. Prestasi itu menjadi bukti bahwa pembinaan pesilat usia muda di Banten mampu menghasilkan atlet berkelas dunia. ANTARA Banten
Pesilat Banten juga mencatatkan prestasi dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Sejumlah atlet kini dipersiapkan untuk mengikuti kejuaraan tingkat Asia Tenggara di Vietnam pada September 2026. Pesilat terbaik juga mengikuti proses seleksi nasional menuju Kejuaraan Dunia Pencak Silat Ke-21 dan Kejuaraan Dunia Pencak Silat Junior Ke-6 di Tashkent, Uzbekistan.
Kejuaraan dunia tersebut dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Proses seleksi menjadi tahapan untuk menentukan atlet yang akan mewakili Indonesia. RRI
Dimyati menilai lingkungan sekolah memiliki peran strategis dalam memperkenalkan pencak silat sejak dini.
Melalui kegiatan ekstrakurikuler, peserta didik tidak hanya mempelajari teknik gerakan, tetapi juga nilai kedisiplinan, keberanian, tanggung jawab, penghormatan kepada guru dan lawan, serta kemampuan mengendalikan diri.
Usulan penguatan pencak silat dalam satuan pendidikan juga pernah disampaikan Dimyati dalam Rapat Kerja Provinsi IPSI Banten pada 2025. Saat itu, ia mendorong pencak silat masuk sebagai muatan lokal dan kegiatan ekstrakurikuler dari tingkat SD hingga SMA sederajat. Pemprov Banten
Penerapan sebagai ekstrakurikuler wajib masih merupakan usulan. Pelaksanaannya memerlukan pembahasan lebih lanjut dengan perangkat daerah dan satuan pendidikan, termasuk menyangkut ketersediaan pelatih, fasilitas, keselamatan peserta didik, serta penyesuaian dengan kebijakan pendidikan.
Ketua IPSI Provinsi Banten Ajat Sudrajat mengatakan pembinaan dan uji ketangkasan atlet terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Pembinaan diperlukan untuk menjaring pesilat potensial sekaligus mempersiapkan mereka mengikuti kompetisi pada jenjang yang lebih tinggi.
Ajat berharap dukungan Pemerintah Provinsi Banten, pemerintah kabupaten dan kota, sekolah, perguruan pencak silat, dunia usaha, serta masyarakat dapat terus diperkuat.
Sinergi berbagai pihak dibutuhkan agar pesilat Banten memperoleh fasilitas latihan, pendampingan, pengalaman bertanding, serta dukungan untuk mengikuti kejuaraan nasional dan internasional.
Melalui Indonesia Pencak Silat Banten Championship 2026, para atlet diharapkan menjunjung tinggi sportivitas sekaligus ikut melestarikan pencak silat sebagai seni budaya bangsa Indonesia (rils).