Dua Akademisi IIQ Jakarta Presentasikan Hasil Riset di Imam Bukhari International Research Center Uzbekistan

waktu baca 4 menit
Sabtu, 29 Agu 2026 13:14 0 151 Redaksi

Internasional|Eranews.id— Dua akademisi Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Samsul Ariyadi dan Ahmad Hawasyi, mempresentasikan hasil penelitian yang mereka lakukan selama menjalani program riset di Imam Bukhari International Scientific Research Center, Uzbekistan, pada 27 Agustus 2026. Presentasi tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian kegiatan akademik keduanya selama berada di Uzbekistan sekaligus menjadi forum diseminasi hasil penelitian di hadapan lingkungan akademik dan peneliti Imam Bukhari Center.

Dalam kesempatan tersebut, Samsul Ariyadi mempresentasikan dua tema penelitian. Tema pertama berjudul “Mā Warāʾ al-Nahr, Genealogi, dan Kontekstualisasi Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dalam Kultur Jawa”. Penelitian ini membahas perjalanan intelektual Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dari kawasan Mā Warāʾ al-Nahr menuju dunia Islam yang lebih luas, kemudian menelusuri proses transmisi, penerimaan, dan kontekstualisasinya dalam tradisi keilmuan Islam di Jawa.

Kajian tersebut secara khusus memberikan perhatian pada tradisi pesantren dan praktik makna gandhul, yakni metode penerjemahan serta pemaknaan teks Arab yang berkembang dalam lingkungan pesantren Jawa. Melalui kajian ini, transmisi Ṣaḥīḥ al-Bukhārī tidak hanya dilihat sebagai perpindahan sebuah kitab dari satu wilayah ke wilayah lainnya, tetapi juga sebagai proses adaptasi intelektual, linguistik, pedagogis, dan kultural yang memungkinkan teks klasik Islam tetap hidup dalam masyarakat Muslim Nusantara.

Tema kedua yang dipresentasikan Samsul Ariyadi berkaitan dengan buku hasil penelitiannya mengenai Presiden Sukarno dan Makam Imam al-Bukhari. Kajian ini menelusuri jejak historis kunjungan Presiden pertama Republik Indonesia ke Uzbekistan serta keterkaitannya dengan makam Imam al-Bukhari. Penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya merekonstruksi hubungan historis Indonesia–Uzbekistan melalui diplomasi, sejarah Islam, serta perhatian Presiden Sukarno terhadap warisan para ulama besar dunia Islam.

Sementara itu, Ahmad Hawasyi mempresentasikan penelitian komparatif mengenai tafsir Uzbekistan dan tafsir Indonesia, dengan memperbandingkan pemikiran tafsir Imam al-Nasafi dan Buya Hamka. Kajian tersebut menelaah karakter penafsiran Al-Qur’an yang berkembang dalam dua lingkungan sosial dan intelektual yang berbeda, yaitu Asia Tengah dan Indonesia, sekaligus mengidentifikasi titik temu maupun kekhasan pendekatan kedua mufasir tersebut.

Perbandingan antara Imam al-Nasafi dan Buya Hamka dinilai memiliki arti penting dalam pengembangan studi tafsir lintas kawasan. Selain memperluas perspektif kajian Al-Qur’an, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tradisi penafsiran selalu memiliki hubungan yang erat dengan konteks masyarakat, budaya, sejarah, dan perkembangan intelektual tempat seorang mufasir hidup.

Presentasi pada 27 Agustus 2026 tersebut tidak hanya menjadi ruang penyampaian hasil penelitian, tetapi juga menjadi momentum refleksi akademik bagi kedua peneliti setelah menjalani proses riset, penelusuran literatur, diskusi, serta interaksi ilmiah di lingkungan Imam Bukhari International Scientific Research Center. Forum tersebut sekaligus mempertemukan pengalaman akademik Indonesia dengan tradisi keilmuan Asia Tengah yang selama berabad-abad menjadi salah satu pusat penting perkembangan studi Islam.

Dalam forum tersebut, Samsul Ariyadi dan Ahmad Hawasyi juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesempatan serta berbagai fasilitas akademik yang diberikan selama menjalankan penelitian di Uzbekistan. Secara khusus, keduanya menyampaikan penghargaan kepada Direktur Imam Bukhari International Scientific Research Center, Prof. Dr. Shovosil Ziyodov, Wakil Direktur Assoc. Prof. Dr. Otabek Muhammadiyev, serta seluruh keluarga besar Imam Bukhari Center yang telah memberikan dukungan, akses literatur, ruang akademik, serta suasana penelitian yang kondusif.

Keduanya juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama berinteraksi dan melaksanakan kegiatan penelitian terdapat sikap, perkataan, maupun hal-hal lain yang kurang berkenan.

Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada pimpinan dan keluarga besar IIQ Jakarta, khususnya Rektor IIQ Jakarta Assoc. Prof. Nadjematul Faizah, Dr. Azizan Fitriana, serta Dr. Ulinnuha Khusnan, yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan penelitian dan kegiatan akademik tersebut.

Momentum presentasi hasil penelitian ini juga berdekatan dengan peringatan hari kemerdekaan dua negara sahabat, Indonesia dan Uzbekistan. Setelah bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, masyarakat Uzbekistan akan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Uzbekistan pada 1 September 2026.

Atas momentum tersebut, kedua akademisi IIQ Jakarta menyampaikan ucapan selamat kepada pemerintah dan masyarakat Uzbekistan.

“Selamat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Uzbekistan. Semoga Uzbekistan senantiasa menjadi negara yang sejahtera, makmur, aman, damai, dan semakin maju, serta menjadi negeri yang baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.”

Mereka berharap momentum kemerdekaan Indonesia dan Uzbekistan dapat semakin memperkuat hubungan persahabatan kedua negara, khususnya melalui kerja sama pendidikan, penelitian, kebudayaan, sejarah, dan kajian keislaman.

Kegiatan penelitian dan presentasi akademik tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya hubungan keilmuan antara Indonesia dan Uzbekistan. Uzbekistan, khususnya kawasan historis Mā Warāʾ al-Nahr, merupakan salah satu pusat penting peradaban dan keilmuan Islam yang melahirkan banyak ulama besar, termasuk Imam al-Bukhari. Sementara Indonesia memiliki tradisi Islam dan khazanah pesantren yang terus mengembangkan serta mengontekstualisasikan warisan intelektual Islam tersebut.

Melalui penelitian bersama, pertukaran akademik, dan dialog antarlembaga, hubungan IIQ Jakarta dengan Imam Bukhari International Scientific Research Center diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kajian Al-Qur’an, hadis, tafsir, sejarah Islam, serta hubungan intelektual Indonesia–Uzbekistan (Red).

LAINNYA