Wakil Bupati Bengkalis dan Akademisi UMJ Bahas Masa Depan SDM dan Pembiayaan Pendidikan Lewat Wakaf Produktif Jakarta|Eranews.id — Upaya membangun sumber daya manusia (SDM) unggul di daerah perbatasan seperti Kabupaten Bengkalis kembali mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Ikatan Pelajar Mahasiswa Bengkalis Jakarta (IPEMALIS Jakarta) di Ciputat, Sabtu (18/1/2026). Forum ini menegaskan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan dunia profesional dalam mempercepat pembangunan manusia di daerah.
Focus Group Discussion (FGD) bertema “Mengakselerasi SDM Unggul Bengkalis: Sejauh Mana Sinergi Ilmu, Kebijakan dan Dunia Profesional Benar-Benar Bekerja?” menjadi ruang strategis untuk membahas tantangan struktural pembangunan pendidikan di daerah perbatasan.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. H. Bagus Santoso, MP, Wakil Bupati Bengkalis, dan Dr. Jaharuddin, S.E., M.E., akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta sekaligus pakar wakaf produktif. Keduanya menekankan urgensi percepatan pembangunan SDM sebagai fondasi keberlanjutan daerah.
Wakil Bupati Bengkalis, Bagus Santoso, menegaskan bahwa Bengkalis tidak boleh hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam, khususnya sektor pertambangan. Menurutnya, ketahanan daerah justru ditentukan oleh kualitas manusianya.
“Kami tidak ingin Bengkalis hanya dikenal sebagai wilayah kaya sumber daya alam, tetapi juga sebagai daerah yang menghasilkan manusia-manusia unggul. SDM adalah fondasi keberlanjutan,” tegas Bagus.
Ia mengungkapkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bengkalis mencapai 76,37 pada 2024, menunjukkan tren positif. Namun, tantangan besar masih membayangi, terutama dalam pemerataan akses pendidikan berkualitas dan kesiapan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja.
Pemerintah Kabupaten Bengkalis, lanjutnya, telah menjalankan sejumlah program strategis, mulai dari beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dan kurang mampu, layanan kesehatan gratis 100 persen, hingga pembangunan politeknik vokasi di Duri. Meski demikian, Bagus menekankan bahwa keberhasilan program tersebut memerlukan kolaborasi lintas sektor.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kami membutuhkan peran akademisi dan mahasiswa Bengkalis di perantauan untuk bersama-sama membangun daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Jaharuddin menyoroti pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter, daya tahan, dan growth mindset.
“Orang yang semangat itu banyak, tetapi yang punya daya tahan jangka panjang sangat langka. Di sinilah pentingnya pendidikan yang menumbuhkan,” kata Jaharuddin.
Ia juga menawarkan wakaf produktif dan skema dana abadi pendidikan sebagai solusi inovatif dan berkelanjutan di tengah keterbatasan fiskal daerah. Menurutnya, wakaf uang yang dikelola secara profesional dapat menjadi sumber pembiayaan pendidikan yang mandiri dan berkeadilan.
Jaharuddin menjelaskan bahwa dalam skema wakaf produktif, pokok dana wakaf dijaga tetap, sementara hasil investasinya dimanfaatkan untuk membiayai pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
“Wakaf produktif bukan gagasan normatif, tetapi mekanisme keuangan yang terbukti efisien, Islami, dan visioner. Kita butuh keberanian mengubah paradigma pendanaan pendidikan,” tegasnya.
Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa Bengkalis yang hadir menyuarakan keresahan mereka terhadap kualitas pendidikan di daerah serta peluang kerja pascalulus. Sejumlah peserta mengusulkan penguatan peran diaspora intelektual Bengkalis melalui riset kolaboratif, pelatihan guru, dan pendampingan digitalisasi sekolah.
Forum ini ditutup dengan komitmen bersama untuk membangun kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas mahasiswa.
Ketua Umum IPEMALIS Jakarta, Fadhli, menyatakan bahwa FGD ini menjadi langkah awal gerakan konkret untuk mendorong pembangunan Bengkalis berbasis ilmu pengetahuan.
“Kami ingin forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi berlanjut pada kerja nyata untuk kemajuan SDM Bengkalis,” pungkasnya (red).