Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pengusaha Mulai Efisiensi dan Hiring Freeze

waktu baca 2 menit
Kamis, 4 Jun 2026 17:05 0 85 Redaksi

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026) mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Sejumlah perusahaan dikabarkan telah menyiapkan langkah antisipasi berupa efisiensi operasional hingga penghentian sementara perekrutan tenaga kerja baru atau hiring freeze.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan dunia usaha sebenarnya telah menghadapi tekanan nilai tukar secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir. Namun, pelemahan rupiah yang semakin dalam kini mulai memberikan dampak nyata terhadap sektor riil.

Menurut Shinta, berbagai perusahaan telah menerapkan sejumlah strategi mitigasi untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah gejolak nilai tukar.

“Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar,” ujar Shinta melalui pesan singkat, Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan, perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor menjadi kelompok yang paling rentan terdampak oleh pelemahan rupiah. Kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga impor berpotensi menekan margin keuntungan dan memengaruhi rencana ekspansi usaha.

Selain itu, kondisi nilai tukar yang tidak stabil juga dapat membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Penundaan ekspansi dan pembukaan lapangan kerja baru menjadi salah satu langkah yang dinilai perlu untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan.

Kalangan dunia usaha berharap pemerintah dan otoritas moneter dapat mengambil langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

Pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur, perdagangan, hingga investasi dan ketenagakerjaan (red).

LAINNYA