Produktivitas Padi 12,88 Ton, Andra Dorong Perluasan PM-AAS

waktu baca 4 menit
Selasa, 1 Sep 2026 18:00 0 43 Redaksi

Kota Serang|Eranews.id – Gubernur Banten Andra Soni mendorong penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) diperluas secara berkelanjutan ke berbagai sentra produksi pertanian di Provinsi Banten.

Dorongan tersebut disampaikan setelah produktivitas padi melalui penerapan PM-AAS di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, dilaporkan mencapai 12,88 ton per hektare. Angka itu sekitar dua kali lipat dibandingkan hasil panen normal yang berada pada kisaran enam ton per hektare.

Andra menyampaikan hal itu saat menghadiri Panen Bersama PM-AAS di lahan Kelompok Tani Tani Bakti, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wali Kota Serang Budi Rustandi dan Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Haris Syahbuddin serta unsur pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani, dan masyarakat.

Diterapkan pada Lahan 100 Hektare

Program PM-AAS di Kecamatan Kasemen diterapkan pada hamparan pertanian seluas 100 hektare yang tersebar di Kelurahan Kasunyatan, Margaluyu, dan Kilasah.

Panen di Kelurahan Kasunyatan menjadi salah satu tahapan untuk melihat hasil penerapan sistem pertanian modern tersebut secara langsung.

Andra menegaskan bahwa keberhasilan modernisasi pertanian tidak boleh hanya diukur dari pelaksanaan panen perdana. Program harus mampu mempertahankan produktivitas pada musim tanam berikutnya dan memberikan peningkatan pendapatan kepada petani.

Ia juga menginginkan proses penerapan PM-AAS dipantau sejak masa tanam, pemeliharaan, hingga panen agar hasilnya dapat dievaluasi secara objektif.

Menurut Andra, lahan pertanian harus dimanfaatkan secara optimal dengan dukungan teknologi, pendampingan, sarana produksi, mekanisasi, dan akses pemasaran yang memadai.

Panen PM-AAS seluas 100 hektare tersebut menjadi bentuk sinergi pemerintah pusat, Pemprov Banten, Pemkot Serang, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, penyuluh, dan kelompok tani. Kecamatan Kasemen

Gunakan Teknologi dan Pendekatan Spesifik Lokasi

PM-AAS mengintegrasikan teknologi digital, mekanisasi pertanian, pengelolaan budidaya, penggunaan sarana produksi sesuai kebutuhan lahan, serta pengelolaan hasil dari hulu hingga hilir.

Penerapannya mencakup sistem tanam rapat dalam baris, tanam benih langsung, mekanisasi, pemanfaatan teknologi digital, dan pengelolaan budidaya secara terpadu.

Sistem ini juga menggunakan pendekatan spesifik lokasi. Kondisi tanah, ketersediaan air, organisme pengganggu tanaman, varietas padi, dan kebutuhan unsur hara diperiksa agar intervensi yang diberikan sesuai dengan karakter lahan.

Pada pelaksanaan PM-AAS di Banten, perbaikan kondisi tanah antara lain dilakukan melalui penggunaan pupuk organik, biochar, dan dolomit sesuai hasil pemeriksaan lahan.

Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Banten sebelumnya melaporkan penerapan PM-AAS dengan varietas Inpari 42 di lahan IP2MP Singamerta menghasilkan 8,8 ton per hektare berdasarkan ubinan BPS. Pada musim sebelumnya, lahan yang sama rata-rata menghasilkan sekitar empat ton per hektare. BRMP Banten

Perlu Pendampingan Berkelanjutan

Andra meminta penerapan teknologi pertanian diikuti pendampingan kepada petani secara berkelanjutan. Pendampingan dibutuhkan agar sistem yang digunakan tidak berhenti setelah program percontohan selesai.

Petani perlu mendapatkan pelatihan mengenai pengoperasian alat dan mesin pertanian, pemilihan benih, pemupukan, pengendalian hama, penggunaan teknologi digital, pencatatan biaya produksi, serta pengelolaan hasil panen.

Pengamanan tanaman juga menjadi bagian penting. Areal PM-AAS di Kasemen sebelumnya menghadapi ancaman wereng batang cokelat dan penggerek batang yang juga ditemukan di sejumlah sentra padi di Kabupaten dan Kota Serang.

BRMP Banten bersama penyuluh, petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan, dan petani melakukan pemantauan serta pengendalian terpadu untuk menjaga produktivitas tanaman hingga masa panen. BRMP Banten

Penyerapan Hasil Panen Harus Disiapkan

Selain peningkatan produksi, Andra menekankan pentingnya kesiapan pasar dalam menyerap gabah petani.

Peningkatan produktivitas dalam jumlah besar harus diikuti kepastian pembelian, harga yang menguntungkan, fasilitas pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan distribusi.

“Kalau produksi meningkat, penyerapan juga harus siap,” kata Andra, dikutip dari PPID Kota Serang.

Pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi dengan Perum Bulog, kelompok tani, penggilingan padi, dan pelaku usaha agar peningkatan produksi tidak menyebabkan petani kesulitan menjual hasil panennya.

Andra memperkirakan pengelolaan satu hektare lahan secara optimal dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp49 juta hingga Rp50 juta dalam satu kali musim panen. Potensi tersebut harus dipastikan benar-benar berujung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Didorong Menjadi Model bagi Sentra Pertanian Banten

Keberhasilan PM-AAS di Kasemen diharapkan menjadi model yang dapat dikembangkan di sentra padi lain di Provinsi Banten.

Namun, perluasan program harus mempertimbangkan kondisi setiap wilayah, mulai ketersediaan air, kesesuaian tanah, luas hamparan, kelembagaan kelompok tani, kesiapan sumber daya manusia, hingga akses alat dan mesin pertanian.

Penerapan sistem tersebut juga perlu dievaluasi berdasarkan produktivitas beberapa musim tanam, efisiensi biaya, pendapatan bersih petani, kualitas hasil panen, dan keberlanjutan kondisi lahan.

Dengan perluasan yang terencana dan pendampingan berkelanjutan, PM-AAS diharapkan meningkatkan produksi padi, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada petani Banten (rils).

LAINNYA