Andra Soni Pantau Anak Krakatau, Mitigasi Disiapkan hingga Desa

waktu baca 4 menit
Senin, 7 Sep 2026 06:19 0 57 Redaksi

Kabupaten Serang|Eranews.id – Gubernur Banten Andra Soni memantau langsung perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sekaligus memastikan kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi potensi dampak erupsi.

Pemantauan dilakukan bersama jajaran Pemerintah Provinsi Banten dan pemerintah kabupaten/kota dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (PGA GAK), Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Minggu (6/9/2026).

Andra menegaskan seluruh langkah mitigasi harus diarahkan pada satu prioritas utama, yakni menjamin keselamatan masyarakat Banten.

“Keselamatan masyarakat adalah hal yang paling utama. Itu yang harus kita kerjakan,” tegas Andra.

Pimpin Rapat Koordinasi di Pos Pengamatan

Di Pos PGA Anak Krakatau, Andra memimpin rapat koordinasi bersama Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rita Susilawati serta jajaran pemerintah daerah.

Rapat tersebut membahas perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, kesiapan pemerintah menghadapi dampak abu vulkanik, koordinasi antarlembaga, dan langkah mitigasi yang harus dipersiapkan sampai tingkat desa.

Andra meminta koordinasi antara Pemprov Banten, pemerintah kabupaten dan kota, PVMBG, BMKG, BPBD, Dinas Kesehatan, serta aparat kewilayahan terus diperkuat.

Koordinasi diperlukan agar informasi mengenai perubahan aktivitas gunung, arah sebaran abu, rekomendasi keselamatan, dan langkah penanganan dapat disampaikan secara cepat kepada masyarakat.

Kegiatan pemantauan dan rapat koordinasi tersebut dikonfirmasi melalui kanal resmi Pemerintah Provinsi Banten.

Aktivitas Menurun, Erupsi Masih Mungkin Terjadi

Andra mengatakan hasil pemantauan PVMBG menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami penurunan. Namun, kondisi tersebut tidak dapat diartikan bahwa aktivitas vulkanik telah berhenti.

“Penurunan aktivitas bukan berarti aktivitasnya akan berhenti. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi, sehingga kita harus terus melakukan pemantauan,” ujar Andra.

Kepala PVMBG Rita Susilawati menjelaskan, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau selama 24 jam melalui sejumlah alat dan stasiun pengamatan yang saling menunjang.

Menurut Rita, waktu terjadinya erupsi maupun berakhirnya aktivitas suatu gunung api tidak dapat dipastikan. Langkah yang dapat dilakukan ialah membaca tanda-tanda berdasarkan data pemantauan serta melakukan evaluasi secara berkelanjutan.

Aktivitas gunung api juga tidak selalu dapat dilihat secara kasatmata. Karena itu, perubahan status tidak hanya ditentukan berdasarkan besar atau kecilnya erupsi, tetapi juga memperhitungkan data kegempaan, deformasi, emisi gas, dan potensi ancaman terhadap masyarakat.

Jalur Evakuasi dan Pengungsian Harus Siap

Andra meminta pemerintah kabupaten dan kota memastikan kesiapan mitigasi hingga tingkat kecamatan dan desa, khususnya di kawasan pesisir yang berhadapan dengan Selat Sunda.

Kesiapan tersebut mencakup pemeriksaan jalur evakuasi, penentuan lokasi pengungsian, penyampaian informasi kepada masyarakat, serta koordinasi petugas apabila sewaktu-waktu diperlukan tindakan darurat.

Pemerintah daerah juga diminta memastikan masyarakat mengetahui jalur yang harus digunakan dan tempat yang dituju apabila instruksi evakuasi dikeluarkan oleh lembaga berwenang.

Penguatan kesiapsiagaan diperlukan sebagai langkah antisipatif. Pemerintah tidak menunggu keadaan darurat terjadi untuk memastikan jalur evakuasi, lokasi pengungsian, petugas, komunikasi, dan dukungan logistik dapat digunakan dengan baik.

Pemprov Distribusikan 5.000 Boks Masker

Selain memantau aktivitas vulkanik, Pemprov Banten memberikan perhatian terhadap dampak sebaran abu Gunung Anak Krakatau.

Andra mengatakan pemerintah telah menyiapkan dukungan perlindungan bagi masyarakat, salah satunya melalui pendistribusian masker oleh Dinas Kesehatan Provinsi Banten.

“Sekarang lima ribu boks masker kita distribusikan melalui dinas kesehatan ke wilayah prioritas,” ungkap Andra.

Masker diprioritaskan untuk masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik. Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika terjadi hujan abu dan menjaga kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Apabila abu vulkanik turun, masyarakat disarankan menggunakan masker, melindungi mata, menutup sumber air, serta mengikuti petunjuk kesehatan dan keselamatan dari pemerintah.

Sebaran Abu Bergantung Arah Angin

Rita menjelaskan arah sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi kondisi angin dan dapat berubah setiap hari.

Berdasarkan pemantauan pada 6 September 2026, sebaran abu bergerak ke arah barat menuju Selat Sunda dan Samudra Indonesia.

PVMBG memantau arah angin dan sebaran abu melalui sejumlah stasiun pengamatan. Pemantauan juga dilakukan melalui koordinasi dengan BMKG serta menggunakan data dari stasiun pengamatan di Australia.

Pemantauan arah abu menjadi penting karena material vulkanik tidak hanya dapat memengaruhi kesehatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu jarak pandang, transportasi laut, dan keselamatan penerbangan.

Warga Dilarang Mendekat Radius Tiga Kilometer

Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. PVMBG merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, pendaki, dan nelayan tidak mendekati gunung atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Pembatasan tersebut harus dipatuhi karena erupsi dapat menimbulkan lontaran batu pijar, aliran lava, abu vulkanik, dan material berbahaya lainnya.

Rekomendasi radius tiga kilometer juga tercantum dalam laporan resmi pemantauan MAGMA Indonesia.

Andra mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada dan tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan.

Masyarakat diminta mendapatkan informasi perkembangan Gunung Anak Krakatau hanya melalui PVMBG, MAGMA Indonesia, BMKG, BNPB, BPBD, dan kanal resmi pemerintah daerah.

Informasi yang belum terverifikasi tidak boleh disebarkan karena dapat menimbulkan kepanikan dan menghambat proses mitigasi.

“Kita terus pantau. Sama-sama kita berdoa agar kita semua diberikan keselamatan,” pungkas Andra (rils).

LAINNYA