BMKG Catat 235 Gempa Susulan Flores, Peluruhan 2–3 Minggu

waktu baca 4 menit
Minggu, 16 Agu 2026 10:14 0 52 Redaksi

Jakarta|Eranews.id  – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 235 aktivitas gempa bumi susulan hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 14.00 WIB setelah gempa utama mengguncang wilayah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gempa susulan tersebar di sebelah utara Pulau Flores dengan magnitudo berkisar M2,5 hingga M6,2. Berdasarkan grafik pemantauan BMKG, aktivitas tersebut belum menunjukkan tren peluruhan yang signifikan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pemantauan terhadap pergerakan sesar terus dilakukan secara waktu nyata. Proses stabilisasi sesar diperkirakan masih membutuhkan waktu sebelum aktivitas seismik kembali normal.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara dua hingga tiga minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Estimasi tersebut merujuk pada pola peluruhan gempa susulan yang pernah dianalisis BMKG setelah gempa M7,6 di Maluku Utara.

Gempa Utama Dimutakhirkan Menjadi M7,7

BMKG memutakhirkan parameter gempa utama menjadi magnitudo M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.

Gempa tersebut tergolong gempa bumi dangkal yang dipicu aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Sistem pemantauan BMKG merespons kejadian tersebut dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa utama. Parameter gempa kemudian diperbarui setelah data yang diterima menjadi lebih stabil dan presisi.

Dalam pemodelannya, BMKG membagi status ancaman tsunami menjadi kategori Siaga dan Waspada. Status Siaga menunjukkan potensi gelombang setinggi 0,5 hingga 3 meter, sedangkan kategori Waspada menunjukkan potensi ketinggian di bawah 0,5 meter.

Tsunami Tercatat Setinggi 1,61 Meter

Jaringan pengamatan muka air laut atau tide gauge BMKG mencatat gelombang tsunami tiba di sejumlah wilayah pesisir.

Ketinggian puncak tsunami mencapai 1,61 meter di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur. Gelombang setinggi 0,94 meter tercatat di Maurole, Kabupaten Ende.

Ketinggian muka air laut lebih dari 0,5 meter juga tercatat di Bulukumba dan Sape, Bima. Data tersebut menunjukkan dampak tsunami terpantau hingga kawasan pesisir di luar Pulau Flores.

BMKG mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada Sabtu pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan memastikan kondisi muka air laut telah kembali aman.

Berakhirnya peringatan tsunami tidak menghilangkan potensi gempa susulan. Masyarakat tetap diminta waspada, terutama ketika berada di sekitar bangunan yang telah retak atau mengalami kerusakan struktur.

Guncangan Terbesar Capai VII MMI

Berdasarkan peta intensitas guncangan, dampak terbesar mencapai skala VII Modified Mercalli Intensity (MMI) di Aesesa, Kabupaten Nagekeo; Riung, Kabupaten Ngada; Kota Mbay; serta sejumlah kawasan di Manggarai dan Ruteng.

Mengacu pada penjelasan skala MMI BMKG, guncangan VII MMI dapat membuat masyarakat keluar rumah serta menimbulkan kerusakan ringan pada bangunan berkonstruksi baik. Bangunan dengan konstruksi kurang baik berpotensi mengalami retakan hingga kerusakan lebih berat.

Guncangan skala VI MMI terukur di Wolowae, Kabupaten Nagekeo dan Kota Bajawa. Sementara itu, guncangan skala V MMI dirasakan di sejumlah wilayah sekitarnya.

BMKG membandingkan karakter gempa tersebut dengan gempa M7,8 yang melanda Flores pada 1992. Namun, pusat gempa kali ini berada pada kedalaman lebih dangkal sehingga menimbulkan guncangan kuat dan kerusakan fisik pada sejumlah bangunan serta infrastruktur.

Tim BMKG Lakukan Pemetaan Mikrozonasi

Untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi, BMKG menerjunkan tim ahli guna melakukan survei mikrozonasi dan analisis makroseismik.

Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis BMKG di NTT menyisir Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan sejumlah lokasi rawan lainnya di Pulau Flores.

Survei dilakukan untuk mengidentifikasi jenis tanah dan responsnya terhadap guncangan gempa. Hasil analisis lapangan akan diserahkan kepada pemangku kepentingan sebagai rujukan dalam rekonstruksi dan penguatan atau retrofitting bangunan tahan gempa.

Warga Diminta Waspadai Gempa Susulan

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Warga diminta menjauhi bangunan yang retak atau rusak dan memastikan kondisi struktur aman sebelum kembali masuk. Masyarakat juga perlu tetap mengikuti arahan petugas di lapangan selama masa tanggap darurat.

Informasi kebencanaan sebaiknya hanya diperoleh melalui situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial terverifikasi @infoBMKG.

BMKG terus berkoordinasi dengan BNPB, Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, dan pusat pengendalian operasi untuk mendukung penanganan darurat serta pemulihan wilayah terdampak (Red).

LAINNYA