HUT Ke-81 RI di Samarkand Diisi Khataman dan Doa untuk Soekarno

waktu baca 4 menit
Selasa, 18 Agu 2026 06:23 0 96 Redaksi

Internasional|Eranews.id – Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Samarkand, Uzbekistan, diisi dengan refleksi kebangsaan, khataman Al-Qur’an, riyadhoh, dan doa khusus pada Senin (17/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Kompleks Memorial Imam al-Bukhari tersebut diinisiasi Samsul Ariyadi atau akrab disapa Pak Ari. Acara menjadi ikhtiar spiritual sekaligus refleksi atas perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Doa secara khusus dipanjatkan untuk Presiden pertama RI Soekarno, para pahlawan bangsa, dan seluruh rakyat Indonesia. Melalui doa tersebut, persatuan dan semangat kebangsaan diharapkan semakin kokoh dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kemerdekaan Tidak Berhenti pada Seremoni

Pak Ari mengatakan, peringatan 17 Agustus tidak hanya menjadi momentum mengenang Proklamasi Kemerdekaan. Masyarakat juga perlu mengingat pengorbanan para pendiri bangsa dan memperbarui tanggung jawab dalam menjaga persatuan, kedaulatan, serta masa depan Indonesia.

Khataman Al-Qur’an untuk memperingati HUT Ke-81 RI di Kompleks Memorial Imam al-Bukhari, Samarkand.

Menurutnya, refleksi kemerdekaan memiliki makna lebih luas ketika disertai doa dan rasa syukur. Kemerdekaan perlu diisi dengan ikhtiar agar Indonesia senantiasa memperoleh perlindungan, kedamaian, keberkahan, dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Puncak 17 Agustus menjadi momentum untuk mengingat Presiden Soekarno dan seluruh pahlawan bangsa. Kita mendoakan mereka sekaligus memohon agar Indonesia terus dipersatukan dan dijaga dalam naungan NKRI,” ujar Pak Ari.

Ia mengajak masyarakat menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama bagi berbagai suku, agama, budaya, dan latar belakang. Perbedaan tersebut harus menjadi kekuatan untuk merawat persaudaraan dan memperkokoh kebangsaan.

Napak Tilas Perjalanan Soekarno

Pemilihan Kompleks Memorial Imam al-Bukhari sebagai lokasi khataman Al-Qur’an memiliki makna sejarah dan spiritual. Kawasan tersebut menjadi bagian dari napak tilas perjalanan Soekarno di Uzbekistan pada masa Uni Soviet.

Catatan MPR RI menyebut Soekarno mengunjungi makam Imam al-Bukhari pada 1956. Kunjungan itu kemudian menjadi salah satu jejak penting hubungan historis dan emosional antara masyarakat Indonesia dan Uzbekistan. MPR RI

Kegiatan khataman tersebut mempertemukan tiga unsur, yakni memori perjuangan kebangsaan Indonesia, jejak perjalanan Soekarno di Asia Tengah, serta penghormatan terhadap warisan keilmuan Islam yang direpresentasikan oleh Imam al-Bukhari.

Kompleks Imam al-Bukhari tidak hanya dikembangkan sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai pusat ilmu pengetahuan, pendidikan spiritual, dan keteladanan moral. Di kawasan tersebut terdapat Imam Bukhari International Scientific Research Center dan sekolah ilmu hadis. Kepresidenan Uzbekistan

Khataman dari Bukhara hingga Samarkand

Khataman Al-Qur’an di Kompleks Imam al-Bukhari merupakan bagian dari rangkaian perjalanan spiritual yang sebelumnya dilaksanakan di makam Syekh Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi di kawasan Bukhara.

Kedua lokasi dipilih karena mempunyai kedudukan penting dalam sejarah keilmuan dan spiritualitas Islam. Imam al-Bukhari dikenal sebagai salah satu ulama hadis terbesar, sedangkan Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi merupakan tokoh utama dalam tradisi Tarekat Naqsyabandiyah.

Kompleks Bahauddin an-Naqsyabandi berada sekitar 12 kilometer dari Kota Bukhara dan menjadi salah satu kawasan ziarah penting di Uzbekistan. Kompleks tersebut mencakup makam, masjid, museum, dan bangunan bersejarah yang berkaitan dengan perkembangan tradisi sufisme. Pemerintah Uzbekistan

Perjalanan dari Bukhara menuju Samarkand itu dimaknai sebagai upaya menghadirkan Indonesia di tengah jejak sejarah Islam Asia Tengah.

“Dari Bukhara sampai Samarkand, kami membawa satu niat, yakni berdoa untuk Indonesia. Kami memohon agar bangsa Indonesia tetap bersatu, kuat, aman, damai, dan semakin diberkahi,” kata Pak Ari.

Doa untuk Keluarga H Budi Gunawan

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, doa juga dipanjatkan untuk H Budi Gunawan, Hj Susi Budi Gunawan, dan seluruh keluarga.

Doa dipanjatkan agar keluarga senantiasa memperoleh kesehatan, perlindungan, ketenteraman, serta umur panjang yang dipenuhi keberkahan dan kemanfaatan.

“Semoga Bapak H Budi Gunawan, Ibu Hj Susi Budi Gunawan, dan seluruh keluarga senantiasa diberikan kesehatan, perlindungan, serta keberkahan dalam setiap langkah kehidupan,” tutur Pak Ari.

Ditutup Tasyakuran dan Ramah Tamah

Setelah pembacaan doa, kegiatan dilanjutkan dengan tasyakuran dan ramah tamah bersama keluarga besar Imam Bukhari International Scientific Research Center.

Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus memperkuat hubungan antara masyarakat Indonesia dan komunitas keilmuan Islam di Uzbekistan.

Pak Ari berharap semangat kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan seremonial. Peringatan 17 Agustus harus menjadi momentum untuk memperkuat pengabdian, persatuan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kepada generasi mendatang.

Rangkaian khataman Al-Qur’an dari Bukhara hingga Samarkand akhirnya menjadi pertemuan antara refleksi sejarah, spiritualitas, dan nasionalisme. Dari kawasan yang pernah menjadi bagian perjalanan Soekarno, doa kembali dipanjatkan agar Indonesia tetap berada dalam persatuan, kedamaian, dan keberkahan (Red).

LAINNYA