RJI Gelar Workshop Integritas Penelitian di UWGM Samarinda

waktu baca 4 menit
Sabtu, 1 Agu 2026 07:19 0 75 Redaksi

Samarinda|Eranews.id – Relawan Jurnal Indonesia (RJI) menggelar Workshop “Literasi Jurnal dan Integritas Penelitian” di Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda, Rabu (29/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WITA di Ruang Serbaguna UWGM Samarinda tersebut menjadi bagian dari upaya RJI memperkuat kualitas pengelolaan jurnal sekaligus menjaga integritas penelitian di perguruan tinggi.

Workshop ini juga diselenggarakan untuk merespons berbagai perubahan dalam ekosistem publikasi ilmiah nasional, mulai dari regulasi akreditasi jurnal hingga meningkatnya perhatian terhadap etika dan integritas akademik.

Rektor UWGM Samarinda, Prof. Dr. Husaini Usman, M.Pd., M.T., hadir sebagai pembicara utama. Sementara itu, materi workshop disampaikan oleh Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., Prof. Fahmi Gunawan, M.A., dan Dr. Arbain, M.Pd.

Jalannya diskusi dipandu oleh Dr. Yusuf Saefuddin, M.H.

Perubahan Kebijakan Akreditasi Jurnal Nasional

Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., membawakan materi bertajuk “Sistem, Tata Kelola, dan Kebijakan Jurnal Ilmiah Nasional”. Ia memaparkan perkembangan jurnal terakreditasi serta perubahan regulasi akreditasi jurnal di Indonesia.

Ahmad Najib mengungkapkan, jumlah kumulatif jurnal nasional terakreditasi mencapai 15.454 jurnal pada 2025. Pertumbuhan tersebut dinilai perlu diikuti dengan penguatan mutu agar peningkatan jumlah jurnal tidak justru menurunkan otoritas akademiknya.

Ia juga menjelaskan perubahan tata kelola jurnal melalui Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 9 Tahun 2026. Perubahan tersebut antara lain mencakup periode penilaian, ambang batas akreditasi, serta penilaian terhadap aspek manajemen dan substansi jurnal.

Dalam kebijakan terbaru, jurnal yang telah terindeks Scopus juga tidak otomatis memperoleh peringkat tertinggi dalam sistem akreditasi nasional. Setiap jurnal tetap harus memenuhi indikator penilaian yang ditetapkan.

Integritas akademik menjadi salah satu aspek penting dalam kebijakan tersebut. Pelanggaran integritas dapat berujung pada tindakan korektif, mulai dari teguran hingga pencabutan status akreditasi.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa kualitas jurnal ilmiah tidak lagi cukup dinilai hanya berdasarkan kelengkapan administratif, tetapi juga berdasarkan mutu substansi dan kepatuhan terhadap etika publikasi.

IRIR untuk Mendeteksi Risiko Integritas Riset

Pembahasan mengenai integritas penelitian diperdalam oleh Prof. Fahmi Gunawan, M.A., dari UIN Kendari. Ia menyampaikan materi “Di Balik Krisis Integritas Riset: Mengapa Indeks Risiko Integritas Riset (IRIR) Penting?”

Menurut Fahmi, integritas penelitian perlu ditangani secara sistematis. Risiko pelanggaran tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh tata kelola penelitian dan budaya akademik dalam suatu institusi.

Melalui konsep Indeks Risiko Integritas Riset, perguruan tinggi didorong untuk mengenali berbagai potensi risiko sejak tahap awal. Pendekatan tersebut dapat digunakan sebagai instrumen pencegahan sebelum pelanggaran berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Perguruan tinggi juga dinilai perlu membangun mekanisme pengawasan dan pembinaan yang mampu menjaga etika penelitian secara konsisten dan berkelanjutan.

Arbain Soroti Kegagalan Pengelolaan Jurnal di Kalimantan

Perspektif kelembagaan disampaikan Dr. Arbain, M.Pd., melalui materi berjudul “Masalah Kegagalan Pengelolaan Jurnal Perguruan Tinggi di Kalimantan”.

Arbain menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi pengelola jurnal perguruan tinggi. Jurnal yang terlambat terbit, belum terakreditasi, atau memiliki kualitas artikel rendah dinilai hanya sebagai gejala permukaan.

Menurutnya, persoalan yang lebih mendasar terletak pada kebijakan institusi, keterbatasan pendanaan, kualitas sumber daya manusia, dan belum memadainya infrastruktur pengelolaan jurnal.

Posisi pengelola jurnal juga masih sering dipandang sebagai pekerjaan tambahan. Banyak editor harus mengembangkan kompetensinya secara mandiri, sedangkan proses kaderisasi pengelola belum berjalan secara terstruktur.

Kondisi tersebut membuat keberlanjutan pengelolaan jurnal menjadi rentan, terutama ketika terjadi pergantian editor atau perubahan kebijakan di tingkat perguruan tinggi.

Dorong Pembentukan Rumah Jurnal dan SOP Editorial

Arbain menawarkan sejumlah langkah perbaikan, di antaranya penguatan kebijakan perguruan tinggi, pembentukan rumah jurnal, penyusunan standar operasional prosedur editorial, serta peningkatan dukungan teknologi informasi.

Perguruan tinggi juga perlu memberikan penghargaan dan pelatihan kepada para pengelola jurnal. Perbaikan jurnal, menurut Arbain, harus dibangun melalui sistem kelembagaan yang kuat dan tidak bergantung pada individu tertentu.

Ia menegaskan bahwa jurnal ilmiah bukan sekadar beban administratif, melainkan investasi bagi reputasi akademik perguruan tinggi.

Karena itu, jurnal perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi peningkatan mutu institusi, diseminasi hasil penelitian, dan penguatan kontribusi keilmuan.

RJI Dorong Ekosistem Publikasi yang Sehat

Melalui tiga perspektif yang disampaikan para pemateri, workshop RJI mempertemukan pembahasan mengenai kebijakan jurnal nasional, integritas penelitian, dan tata kelola jurnal perguruan tinggi.

Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa kualitas publikasi ilmiah tidak dapat dibangun hanya dengan mengejar jumlah artikel, indeksasi, atau peringkat akreditasi.

RJI melalui kegiatan ini mendorong perguruan tinggi membangun ekosistem publikasi yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan. Pengelola jurnal, peneliti, pimpinan perguruan tinggi, dan pemerintah perlu bergerak dalam arah yang sama.

Peserta Workshop Integritas Penelitian di UWGM Samarinda  (29/7/2026).

Workshop tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas pengelola jurnal, khususnya di Kalimantan Timur. Jurnal ilmiah pada akhirnya harus berkembang menjadi ruang diseminasi pengetahuan yang berintegritas serta memberikan dampak akademik dan sosial.

LAINNYA