Gubernur Banten Andra Soni bersama Gubernur Jakarta Pramono Anung saat penandatanganan MoU Studi Potensi MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 rute Kembangan–Balaraja di Balai Kota Jakarta, Rabu (4/2/2026).
📷 @ddams12 Jakarta|Eranews.id — Gubernur Banten Andra Soni menegaskan bahwa sinergi antara Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Daerah Khusus Jakarta menjadi kunci utama dalam mewujudkan sistem transportasi massal terintegrasi di kawasan metropolitan Jabodetabek. Hal tersebut disampaikannya saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Studi Potensi MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 rute Kembangan–Balaraja di Balai Kota Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Menurut Andra Soni, MoU tersebut merupakan langkah awal yang strategis untuk membuka peluang pengembangan Moda Raya Terpadu (MRT) lintas wilayah Jakarta–Banten. Kajian yang akan dilakukan mencakup aspek kelembagaan, pembiayaan, serta teknis trase, sebagai dasar pengambilan keputusan pembangunan ke depan.
“Transportasi massal terintegrasi tidak bisa dibangun secara parsial. Diperlukan sinergi antarpemerintah daerah agar mobilitas masyarakat perbatasan dapat terlayani secara efektif dan berkelanjutan,” ujar Andra Soni.
Ia menilai rencana perpanjangan MRT hingga Balaraja, Kabupaten Tangerang, memiliki nilai strategis dalam mengurai kemacetan, menekan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, serta meningkatkan produktivitas masyarakat yang setiap hari beraktivitas lintas provinsi.
Selain aspek transportasi, pengembangan MRT lintas wilayah juga diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan, memperkuat konektivitas pusat-pusat kegiatan baru, serta meningkatkan nilai investasi di wilayah Banten bagian utara dan barat.
Sementara itu, Gubernur Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa kolaborasi lintas daerah harus dibarengi dengan keterlibatan sektor swasta, khususnya para pengembang kawasan. Menurutnya, skema pembiayaan kreatif dan pengembangan Transit Oriented Development (TOD) menjadi kunci keberlanjutan proyek MRT lintas wilayah.
“Pengembangan MRT tidak hanya soal transportasi, tetapi juga pengembangan kawasan. Dengan TOD, kita bisa memastikan manfaat ekonomi dan sosial dirasakan secara luas,” kata Pramono.
Pramono menambahkan, studi potensi proyek MRT lintas Timur–Barat Fase 2 tersebut ditargetkan rampung dalam waktu 8 hingga 10 bulan. Hasil kajian itu nantinya akan menjadi dasar percepatan pembangunan serta penentuan model kerja sama antarwilayah.
Pemerintah Provinsi Banten dan Jakarta berharap, proyek MRT Kembangan–Balaraja dapat menjadi tonggak penting integrasi transportasi massal regional, sekaligus menjawab tantangan mobilitas di kawasan metropolitan yang terus berkembang (rils).