ilustrasi Opini|Eranews.id – Ada rindu yang disimpan seorang santri di antara halaman kitabnya. Ada doa orang tua yang menyertai keberangkatannya ke pesantren. Ada harapan sederhana yang dititipkan saat berpisah: semoga anak ini tumbuh menjadi manusia berilmu, berakhlak, dan berguna bagi sesama.
Harapan itu terasa dekat dengan kebutuhan Indonesia hari ini. Kita menginginkan generasi yang mampu berpikir jernih, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan memegang amanah. Kita mendambakan orang-orang yang tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk curang, serta tetap peduli ketika hidupnya sendiri sudah berkecukupan.
Pada Hari Santri, 22 Oktober 2026, harapan tersebut patut kita tempatkan di pusat peringatan. Di tengah upacara, selawat, dan berbagai kegiatan yang menghidupkan suasana, ada pertanyaan yang perlu dibawa pulang: sejauh mana nilai-nilai yang kita rayakan telah hadir dalam perilaku kita?
Bangsa ini membutuhkan keteladanan yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kejujuran memperoleh maknanya ketika seorang pedagang menjaga timbangan. Amanah terlihat ketika seseorang mengelola uang yang dipercayakan kepadanya. Kepedulian menjadi nyata ketika kita bersedia mendengarkan kesulitan orang lain dan membantu sesuai kemampuan.
Nilai-nilai besar selalu membutuhkan tindakan yang konkret. Dalam hal ini, kehidupan pesantren menyediakan ruang latihan yang berharga. Santri belajar menaati waktu, merawat barang miliknya, hidup bersama orang dengan kebiasaan berbeda, dan menyelesaikan tanggung jawab sehari-hari. Prosesnya mungkin tidak selalu mudah. Justru melalui pengalaman itulah kesabaran dan kedewasaan dapat tumbuh.
Namun, santri juga manusia muda yang sedang belajar. Mereka dapat lelah, melakukan kesalahan, merasa takut, dan membutuhkan pertolongan. Karena itu, penghormatan kepada santri harus disertai kesediaan memahami kehidupan mereka secara utuh. Kita perlu memberi ruang bagi mereka untuk bertanya, menyampaikan kesulitan, dan mengembangkan kemampuan tanpa kehilangan rasa aman.
Pesantren yang mendidik dengan kasih sayang akan membantu santri memahami bahwa kewibawaan dapat tumbuh melalui keadilan. Disiplin dapat dibangun melalui aturan yang jelas dan pendampingan yang konsisten. Penghormatan kepada guru menjadi semakin kuat ketika santri merasakan teladan dalam cara gurunya berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama.
Dari lingkungan pendidikan semacam itulah kita berharap lahir pribadi yang mampu membawa kebaikan ke tengah masyarakat.
Tantangan berikutnya adalah memastikan bekal santri dapat berkembang sesuai kebutuhan zaman. Kemampuan membaca kitab perlu memperoleh ruang untuk berdialog dengan persoalan kehidupan: bagaimana keluarga mengelola keuangan, bagaimana usaha kecil bertahan, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana teknologi digunakan secara bertanggung jawab.
Santri perlu memiliki kesempatan mempelajari bahasa, sains, keterampilan digital, serta kewirausahaan. Kesempatan tersebut membuka jalan agar mereka dapat berkontribusi melalui berbagai profesi. Ada yang kelak mengajar, membangun usaha, meneliti, menulis, mengembangkan teknologi, atau melayani masyarakat melalui lembaga publik.
Di mana pun mereka bekerja, nilai yang dipelajari akan diuji melalui keputusan-keputusan kecil. Apakah bersedia mengakui kesalahan? Apakah menghargai hak orang lain? Apakah tetap teliti ketika pekerjaannya tidak diawasi? Keteladanan tumbuh dari jawaban yang diberikan melalui tindakan, berulang kali.
Dalam ruang digital, ujian itu bahkan hadir di genggaman tangan. Sebelum meneruskan sebuah pesan, seseorang perlu memeriksa kebenarannya. Sebelum berkomentar, ia perlu mempertimbangkan dampak ucapannya. Sebelum mengunggah sesuatu, ia perlu menghormati privasi dan martabat orang lain.
Santri dapat mengambil peran melalui tulisan yang mencerahkan, percakapan yang menenangkan, dan penjelasan yang membantu masyarakat memahami persoalan. Pengaruh yang baik dapat dimulai dari lingkaran kecil: grup keluarga, teman sebaya, lingkungan tempat tinggal, atau komunitas belajar.
Pengabdian tidak harus menunggu jabatan, kekayaan, maupun pengakuan.
Mengajari seorang anak membaca dengan sabar adalah pengabdian. Membantu tetangga memahami layanan digital adalah pengabdian. Mendampingi pelaku usaha kecil mencatat pemasukan dan pengeluaran juga merupakan bentuk pengabdian. Ilmu menjadi bermakna ketika kehadirannya memudahkan kehidupan seseorang.
Meski demikian, tuntutan agar santri berkontribusi harus diimbangi dukungan yang sungguh-sungguh. Kita perlu memperhatikan ruang belajar, kesehatan, sanitasi, buku bacaan, serta kesempatan melanjutkan pendidikan. Santri dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi membutuhkan jalan yang terbuka agar cita-citanya tidak berhenti karena biaya.
Pemerintah, masyarakat, alumni, perguruan tinggi, dan dunia usaha dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya. Beasiswa yang berkelanjutan, pendampingan keterampilan, perpustakaan yang terawat, dan kesempatan magang merupakan bentuk dukungan yang langsung menyentuh masa depan santri.
Perhatian itu juga perlu menjangkau para pendidik. Guru dan pengasuh membutuhkan kesempatan meningkatkan kompetensi serta dukungan untuk menjalankan tugas secara layak. Mutu pendidikan tumbuh ketika orang-orang di dalamnya memperoleh kepercayaan, perlindungan, dan sumber daya yang memadai.
Hari Santri akhirnya menjadi kesempatan untuk melihat kembali tanggung jawab kita bersama. Orang tua menitipkan harapan. Guru merawat proses belajar. Masyarakat membuka ruang pengabdian. Negara memastikan kesempatan pendidikan yang adil. Santri tumbuh di tengah hubungan yang saling menguatkan tersebut.
Ketika peringatan selesai dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, semoga ada sesuatu yang menetap: kesediaan untuk lebih jujur, lebih sabar, dan lebih bertanggung jawab terhadap sesama.
Sebab masa depan Indonesia ikut dibentuk oleh cara kita menjalankan amanah hari ini—di ruang kelas, di tempat usaha, di kantor, dan di rumah.
Selamat Hari Santri, 22 Oktober 2026. Semoga doa yang dititipkan orang tua di pintu pesantren kelak tumbuh menjadi kebaikan yang dirasakan banyak orang (red).
Penulis, Mantan Santri 1999