Kemlu Pastikan Belum Ada WNI Terdampak Banjir Nepal–China

waktu baca 3 menit
Sabtu, 29 Agu 2026 13:43 0 57 Redaksi

Jakarta|Eranews.id – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan belum menerima laporan mengenai warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban atau terdampak banjir bandang dan longsor di kawasan perbatasan Nepal–China.

Bencana yang terjadi pada Rabu (26/8/2026) tersebut melanda sejumlah wilayah di Nepal dan Daerah Otonom Tibet, China. Pemerintah Indonesia terus memantau keadaan WNI melalui KBRI Dhaka, KBRI Beijing, Konsul Kehormatan RI di Kathmandu, serta jejaring masyarakat Indonesia di kawasan tersebut.

“Hingga saat ini, berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak,” kata Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8/2026).

Sebanyak 45 WNI Menetap di Nepal

Berdasarkan data Kemlu, sebanyak 45 WNI tercatat menetap di Nepal. Sebagian besar berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan.

Kemlu terus berkomunikasi dengan komunitas WNI untuk memastikan keberadaan dan kondisi mereka setelah bencana.

Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap WNI yang menetap. Pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada wisatawan Indonesia, terutama mereka yang sedang atau berencana melakukan perjalanan dan pendakian di wilayah pegunungan Nepal.

KBRI Dhaka telah meminta agen perjalanan yang memberangkatkan WNI ke Nepal segera menyampaikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi wisatawan yang mereka dampingi.

Langkah tersebut diperlukan karena data WNI yang melakukan perjalanan wisata dalam waktu singkat dapat berubah dan tidak seluruhnya tercatat sebagai penduduk yang menetap di Nepal. ANTARA

Data Korban Terus Berubah

Dalam laporan awal pada Kamis (27/8/2026), otoritas Nepal mencatat sedikitnya 384 wisatawan dan pelancong belum ditemukan. Sekitar 290 orang di antaranya dilaporkan merupakan wisatawan asing.

Warga negara asing yang dilaporkan hilang dalam pendataan awal berasal dari sejumlah negara, termasuk India, Malaysia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Namun, angka tersebut merupakan data awal dan bukan jumlah keseluruhan korban bencana di Nepal maupun Tibet.

Seiring perluasan pencarian, jumlah korban meninggal dan orang yang belum ditemukan terus meningkat. Laporan internasional pada Sabtu (29/8/2026) menyebut lebih dari 600 orang meninggal dan sekitar 3.000 orang masih hilang di kawasan terdampak.

Perubahan angka yang cepat disebabkan luasnya wilayah bencana, terputusnya komunikasi, rusaknya akses jalan, serta proses pencocokan data wisatawan dan warga setempat yang masih berlangsung. Reuters, Associated Press

Runtuhan Gletser Picu Banjir dan Longsor

Banjir bandang dilaporkan terjadi setelah runtuhan gletser memicu aliran air, lumpur, bebatuan, es, dan material lainnya menuju kawasan permukiman.

Material tersebut mengalir melalui sistem Sungai Bhotekoshi dan Trishuli serta menghancurkan rumah, jalan, jembatan, fasilitas perbatasan, dan proyek pembangkit listrik.

Sejumlah wilayah yang terdampak berada di kawasan pegunungan dan sulit dijangkau. Cuaca buruk, longsor susulan, serta ancaman luapan danau yang terbentuk akibat timbunan material turut menghambat operasi pencarian.

Petugas penyelamat mengerahkan helikopter, perahu, pesawat nirawak, dan tim darat untuk mengevakuasi warga serta mencari orang-orang yang belum ditemukan.

Otoritas setempat juga masih mewaspadai kemungkinan banjir susulan akibat kondisi gletser dan danau alami di sekitar wilayah bencana.

WNI Diminta Menghindari Wilayah Terdampak

KBRI Dhaka dan KBRI Beijing mengimbau WNI di Nepal maupun China meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti arahan otoritas setempat.

WNI juga diminta menghindari wilayah terdampak, menunda perjalanan yang tidak mendesak menuju daerah rawan, dan memantau perkembangan melalui sumber resmi.

Wisatawan dan pendaki Indonesia perlu memastikan rencana perjalanan telah diketahui keluarga, agen perjalanan, dan perwakilan RI. Mereka juga disarankan membawa dokumen perjalanan, obat-obatan, alat komunikasi, dan perlengkapan darurat.

Dalam keadaan darurat, WNI di Nepal dapat menghubungi Hotline KBRI Dhaka melalui nomor +880 161-4444-552.

WNI yang berada di wilayah China dapat menghubungi Hotline KBRI Beijing melalui +86 186-1045-5488, baik melalui telepon, SMS, maupun WeChat. ANTARA

Kemlu memastikan pemantauan dan komunikasi dengan komunitas WNI akan terus dilakukan selama proses pencarian, evakuasi, dan penanganan bencana masih berlangsung (Red).

LAINNYA