Khataman Al-Qur’an dan riyadhoh di Kompleks Imam al-Bukhari, Samarkand, Uzbekistan, dalam rangka memperingati HUT Ke-81 RI. International|Eranews.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia akan diisi dengan khataman Al-Qur’an dan riyadhoh di kawasan Kompleks Memorial Imam al-Bukhari, Samarkand, Uzbekistan, Senin (17/8/2026).
Kegiatan yang diprakarsai Samsul Ariyadi atau akrab disapa Pak Ari itu menjadi ikhtiar spiritual untuk mendoakan Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, para pahlawan bangsa, serta keselamatan dan kemajuan Indonesia.
Acara tersebut mengusung semangat Indonesia ber-MBG, singkatan dari Mulia, Berkah, dan Gemilang Masa Depan. Semangat itu diharapkan menghadirkan peringatan kemerdekaan yang tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial.
Khataman Al-Qur’an dan riyadhoh juga menjadi ruang untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa sekaligus merefleksikan tanggung jawab generasi penerus dalam mengisi kemerdekaan.
Doa dalam kegiatan tersebut secara khusus dipersembahkan kepada Soekarno sebagai Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia. Doa juga ditujukan kepada seluruh pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Pak Ari mengatakan, kemerdekaan dapat diperingati melalui berbagai cara, termasuk dengan mendoakan para pendiri bangsa dan pahlawan dari tempat yang mempunyai nilai sejarah serta spiritual.
“Kami mendoakan Indonesia semakin mulia, memperoleh keberkahan, dan menyongsong masa depan yang gemilang,” ujar Pak Ari.
Melalui kegiatan tersebut, perjuangan para pahlawan diharapkan terus menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk menjaga persatuan, meningkatkan pengabdian, dan berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.
Kawasan Kompleks Memorial Imam al-Bukhari dipilih karena mempunyai nilai keilmuan, sejarah, dan spiritual yang kuat bagi umat Islam.
Imam al-Bukhari dikenal sebagai salah satu ulama hadis paling berpengaruh dalam sejarah Islam dan penyusun Sahih al-Bukhari. Kompleks memorialnya di Samarkand dikembangkan sebagai kawasan ziarah sekaligus pusat ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pembinaan spiritual. Pemerintah Uzbekistan
Menurut Pak Ari, pemilihan lokasi tersebut membawa pesan bahwa kemajuan bangsa tidak dapat dilepaskan dari ilmu pengetahuan, nilai moral, dan kehidupan spiritual.
Selain khataman Al-Qur’an, riyadhoh dilaksanakan sebagai ikhtiar batin untuk memohon keselamatan, persatuan, kedamaian, dan keberkahan bagi bangsa Indonesia.
Kegiatan ini sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan mengandung tanggung jawab moral untuk memajukan ilmu pengetahuan, memperkuat persaudaraan, meningkatkan pengabdian, dan menumbuhkan kepedulian sosial.
Pelaksanaan kegiatan di Uzbekistan turut membawa pesan historis mengenai hubungan Indonesia dengan kawasan Asia Tengah pada masa pemerintahan Soekarno.
Soekarno tercatat pernah mengunjungi makam Imam al-Bukhari sebelum hubungan diplomatik resmi Indonesia dan Uzbekistan terbentuk. Kunjungan tersebut menjadi salah satu jejak hubungan emosional dan sejarah antara masyarakat kedua negara. Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Menurut Pak Ari, doa dari Samarkand mempunyai makna simbolis karena menghubungkan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dengan warisan keilmuan Islam di Asia Tengah.
Hubungan Indonesia dan Uzbekistan juga terus berkembang dalam bidang pendidikan, kebudayaan, penelitian, dan wisata religi. Kompleks Imam al-Bukhari menjadi salah satu tujuan ziarah yang memiliki kedekatan tersendiri bagi masyarakat Muslim Indonesia.
Semangat Mulia, Berkah, dan Gemilang Masa Depan dimaknai sebagai doa agar kemajuan Indonesia tidak hanya diukur melalui pembangunan material.
Indonesia juga diharapkan memiliki kemuliaan dalam kehidupan berbangsa, memperoleh keberkahan dalam setiap proses pembangunan, serta mampu menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Pak Ari berharap para pahlawan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan perjuangan mereka terus menjadi teladan bagi generasi penerus.
Ia juga mendoakan agar Indonesia selalu berada dalam persatuan, kedamaian, keberkahan, dan kemajuan.
Pelaksanaan khataman Al-Qur’an dan riyadhoh di kawasan bersejarah Imam al-Bukhari memperlihatkan bahwa nasionalisme dapat diwujudkan melalui tradisi keagamaan. Doa untuk Indonesia menjadi titik temu antara nilai keislaman, penghormatan terhadap sejarah, dan kecintaan kepada Tanah Air (red).